Simalungun Tempo Doeloe

Share

SIMALOENGOEN atawa TIMOER oleh ALI HENDRA SIBAYAKINDO

Tortor Siacmalungun-Dolog Silou antara tahun 1937-1941
Tortor Simalungun. Dolog Silou antara tahun 1937-1941
Diabadikan di depan Museum Simalungun tahun 1939, beberapa manuskrip Simalungun, seperti Pustaha Laklak dan Parhalaan. Tampak pula tenunan tradisi (hiou), ikat kepala (gotong) beserta hiasan. Dibelakang tertancap Tungkot Tunggal Panaluan. Duduk sebelah kanan adalah Guru Raya – Borahim Purba Dasuha
Diabadikan di depan Museum Simalungun tahun 1939, beberapa manuskrip Simalungun, seperti Pustaha Laklak dan Parhalaan. Tampak pula tenunan tradisi (hiou), ikat kepala (gotong) beserta hiasan. Dibelakang tertancap Tungkot Tunggal Panaluan. Duduk sebelah kanan adalah Guru Raya – Borahim Purba Dasuha
PANAK BORU RAJA RAYA
PANAK BORU RAJA RAYA
Mandihar
Mandihar
Panortor di Pamatang Dolog Silou. Diiringi ensambel Gual Simalungun. Dalam daftar koleksi P Voorhoeve tahun 1940an (photo & keterangan: M Muhar Omtatok)
Panortor di Pamatang Dolog Silou. Diiringi ensambel Gual Simalungun. Dalam daftar koleksi P Voorhoeve tahun 1940an (photo & keterangan: M Muhar Omtatok)
Tari Topeng Burung Enggang atau yang disebut Huda Huda, dengan mengunakan topeng ( Toping Toping), disebuah upacara kematian di Simalungun. Dalam daftar koleksi P Voorvoeve tahun 1940an. (photo & keterangan: M Muhar Omtatok)
Tari Topeng Burung Enggang atau yang disebut Huda Huda, dengan mengunakan topeng ( Toping Toping), disebuah upacara kematian di Simalungun. Dalam daftar koleksi P Voorvoeve tahun 1940an. (photo & keterangan: M Muhar Omtatok)
Dalam sebuah upacara, Tuan Anggi Dolog manortor Bajut. Dalam daftar koleksi P Voorhoeve tahun 1940an. (photo & keterangan: M Muhar Omtatok)
Dalam sebuah upacara, Tuan Anggi Dolog manortor Bajut. Dalam daftar koleksi P Voorhoeve tahun 1940an. (photo & keterangan: M Muhar Omtatok)

Dalam sebuah upacara, Tuan Anggi Dolog manortor Bajut. Dalam daftar koleksi P Voorhoeve tahun 1940an. (photo & keterangan: M Muhar Omtatok)

Parade Raja-raja Simalungun pada Harungguan Bolon di Pamatang Siantar
Parade Raja-raja Simalungun pada Harungguan Bolon di Pamatang Siantar

Parade Raja-raja Simalungun pada Harungguan Bolon di Pamatang Siantar, 1930. Dari kiri ke kanan: Raja Tanoh Jawa – Sang Majadi (morga Sinaga), Partuanon Silou Kahean – Tuan Gaib (morga Purba), Raja Raya – Tuan Gomok (morga Saragih Garingging), Raja Siantar – Tuan Sawadim (morga Damanik), Raja Panei – Tuan Bosar Sumalam (morga Purba), Raja Dolog Silou – Tuan Ragaim (morga Purba) , Raja Purba – Tuan Mogang (morga Purba), Partuanon Bandar – Tuan Desta Bulan (morga Damanik) dan Raja Silimakuta – Tuan Padiraja (morga Girsang).

Raja - Raja Simalungun, 1930
Raja – Raja Simalungun, 1930

Raja – Raja Simalungun, 1930

Ulama-Ulama di Simalungun
Ulama-Ulama di Simalungun

Ulama-Ulama di Simalungun

simalungun

Toehan Gomok disamping Rumah Bosar Pamatang Raya
Toehan Gomok disamping Rumah Bosar Pamatang Raya

Toehan Gomok disamping Rumah Bosar Pamatang Raya. Saat kunjungan De Heer (Tuan) & Mevrouw (Nyonya) J. R. Fabricius ke Rumah Bosar (Rumah Bolon/Istana) Pamatang Raya, 1934. Kunjungan itu disambut oleh Raja Gomok, nenek Raja Gomok, Raja Siantar serta masyarakat tempatan. Bagi Pamatang Raya, Kunjungan ini merupakan Silaturrahim memperkenalkan kesenian dan kebudayaan saja. Terbukti, pihak Pamatang Raya memperkenalkan kesenian & kebudayaan Simalungun yang ada di Pamatang Raya. Raja Gomok bahkan sempat memperkenalkan tortor Simalungun, dan beliau langsung mempertunjukkan seni tari asli dengan manortor. Tampak dalam photo yang dikoleksi GL. Tichelman ini, Raja Gomok tetap duduk menyambut tamu tanda ketinggian darah kebangsawanannya. Ny. J.R Fabricius memperhatikan ensambel Gual Simalungun yang sedang dimainkan.

Toehan Gomok disamping Rumah Bosar Pamatang Raya.
Toehan Gomok disamping Rumah Bosar Pamatang Raya.

Toehan Gomok disamping Rumah Bosar Pamatang Raya. Saat kunjungan De Heer (Tuan) & Mevrouw (Nyonya) J. R. Fabricius ke Rumah Bosar (Rumah Bolon/Istana) Pamatang Raya, 1934. Kunjungan itu disambut oleh Raja Gomok, nenek Raja Gomok, Raja Siantar serta masyarakat tempatan. Bagi Pamatang Raya, Kunjungan ini merupakan Silaturrahim memperkenalkan kesenian dan kebudayaan saja. Terbukti, pihak Pamatang Raya memperkenalkan kesenian & kebudayaan Simalungun yang ada di Pamatang Raya. Tampak dalam photo, Raja Gomok memperkenalkan tortor Simalungun, dan beliau langsung mempertunjukkan seni tari asli dengan manortor yang diiringi ensambel Gual Simalungun. (photo & keterangan: M Muhar Omtatok).

Raja Siantar
Raja Siantar

Radja Siantar

Toehan Djorlang Hataran - Tanoh Djawa
Toehan Djorlang Hataran – Tanoh Djawa

Toehan Djorlang Hataran – Tanoh Djawa

Raja Dolog Silou
Raja Dolog Silou

Raja Dolog Silou. Photo diambil pada Oktober 1939.

Makam batu untuk belulang dari Tuan Doriandjim di  Nagori Dolog
Makam batu untuk belulang dari Tuan Doriandjim di Nagori Dolog

Makam batu untuk belulang dari Tuan Doriandjim di  Nagori Dolog. 1938.

Hoofd Pangoeloe Bandar Tinggi - Pangoeloe Amat
Hoofd Pangoeloe Bandar Tinggi – Pangoeloe Amat

Hoofd Pangoeloe Bandar Tinggi – Pangoeloe Amat (1899-1978). Nama aslinya T. Achmad Rasjid, seorang Melayu yang diberi morga Damanik oleh Tuan Sawadim karena sangat memperjuangkan Simalungun dan menyatukan suku-suku yang bercokol di wilayah itu. Ia Perintis Kemerdekaan yang mewajibkan warga di Bandartinggi memakai bahasa pergaulan antar suku dgn memakai bahasa Simalungun dan membayar panggual senior untuk mengajarkan kepada pemuda setempat, musik Simalungun

Pandita Djaulung Wismar Saragih Sumbayak
Pandita Djaulung Wismar Saragih Sumbayak

Pandita Djaulung Wismar Saragih Sumbayak (lahir 1888 di Sinondang/Raya – meninggal dunia 7 Maret 1968). Putra dari Djalam Saragih Sumbayak, seorang Tuhang Sarung ni Bodil di Kerajaan Raya, Ibunya Roggainim boru Purba Sigumonrong dari kampung Raya Dolog. Pendeta Kristen Pertama di Simalungun.

Sawadim (morga Damanik)
Sawadim (morga Damanik)

Tuan Sawadim (morga Damanik), wafat tahun 1950-an

PUANG BANDAR BORU DAMANIK
PUANG BANDAR BORU DAMANIK

PUANG BANDAR BORU DAMANIK. dari kiri ke kanan: Puang boru Damanik : Solimah menikah dengan putra Raja Tanoh Jawa Sang Majadi yaitu Tuan Kaliamsyah Sinaga, Soribunga menikah dengan Tuan Jorlang Hataran – Tuan Bisar Sinaga, Sumainim menikah dengan Tengku Katan Deli, Tiamin menikah dengan Tuan Tiga Dolog – Djintaraim Sinaga, Sortailim menikah dengan Tuan Kaliamta Sinaga – orangtua dari alm. Prof. Dr. H.T. Usul Sinaga. Nama Prof Usul Sinaga diambil dari nama leluhurnya, yaitu Raja Usul – Raja Tanah Jawa setelah Raja Sorgahari – Raja Jontabulan & Raja Sorgalawan.

Sawadin Damanik bersama tiga putri Beliau, dari kiri ke kanan: Soribunga, Sitiamin Dan Solimah
Sawadin Damanik bersama tiga putri Beliau, dari kiri ke kanan: Soribunga, Sitiamin Dan Solimah

Sawadin Damanik bersama tiga putri Beliau, dari kiri ke kanan: Soribunga, Sitiamin Dan Solimah.

Amplop tertanggal 31 Desember 1935 milik Assistent Resident Simelungun dan Karolanden
Amplop tertanggal 31 Desember 1935 milik Assistent Resident Simelungun dan Karolanden

Amplop tertanggal 31 Desember 1935 milik Assistent Resident Simelungun dan Karolanden serta Pematang Siantar.

Patung Pangulubalang di belakang Balai Kota Pematang Siantar
Patung Pangulubalang di belakang Balai Kota Pematang Siantar

Di photo sekitar tahun 1920-1938. Patung Pangulubalang di belakang Balai Kota Pematang Siantar

Pasar di Kota Pematang Siantar
Pasar di Kota Pematang Siantar

Berkisar tahun 1900-1921. Pasar di Kota Pematang Siantar. Tampak apik dan bersih.

Museum Simalungun-1939
Museum Simalungun-1939

Museum Simalungun-1939

Raja Siantar – Tuan Sawadim (morga Damanik) & Raja Dolog Silou – Tuan Ragaim (morga Purba)
Raja Siantar – Tuan Sawadim (morga Damanik) & Raja Dolog Silou – Tuan Ragaim (morga Purba)

Raja Siantar – Tuan Sawadim (morga Damanik) & Raja Dolog Silou – Tuan Ragaim (morga Purba), 1930-an. Coba perhatian gotong yang mereka kenakan, apakah sama dengan gotong yang kini dipergunakan?

Gerbong pengangkut teh saat melintasi jembatan dari Pabrik Teh Balimbingan
Gerbong pengangkut teh saat melintasi jembatan dari Pabrik Teh Balimbingan

Gerbong pengangkut teh saat melintasi jembatan dari Pabrik Teh Balimbingan,  berkisar tahun 1921 – 1926.

Raja Dolog
Raja Dolog

Raja Dolog. Photo diambil berkisar tahun 1900-1940.

Makam dari salah seorang Puang Bolon Raja Panei
Makam dari salah seorang Puang Bolon Raja Panei

Makam dari salah seorang Puang Bolon Raja Panei. Tampak sudah menggunakan bahan semen. photo diabadikan berkisar tahun 1939.

Para Staf ADM Afdeling Simeloengoen en de Karolanden saat berkunjung ke Sipolha
Para Staf ADM Afdeling Simeloengoen en de Karolanden saat berkunjung ke Sipolha

Para Staf ADM Afdeling Simeloengoen en de Karolanden saat berkunjung ke Sipolha (Salah satu wilayah sentrum kebangsawanan Simalungun di Tepi Danau Toba), tahun 1934 dari koleksi KITLV di Belanda. Tampak wanita berkebaya & memakai bulang sedang memberi demban, sebah upaya memperkenalkan budaya lokal.

Staf ADM Afdeling Simeloengoen en de Karolanden
Staf ADM Afdeling Simeloengoen en de Karolanden

Para Staf ADM Afdeling Simeloengoen en de Karolanden saat berkunjung ke Sipolha (Salah satu wilayah sentrum kebangsawanan Simalungun di Tepi Danau Toba), tahun 1934 dari koleksi KITLV di Belanda. Dengan memakai Hiou Simalungun (kain adat Simalungun), wakil-wakil pemerintah berkuasa saat itu, terasa tidak asing dengan alam dan kultur tempatan.

Para Staf ADM Afdeling Simeloengoen en de Karolanden saat berkunjung ke Sipolha
Para Staf ADM Afdeling Simeloengoen en de Karolanden saat berkunjung ke Sipolha

Para Staf ADM Afdeling Simeloengoen en de Karolanden saat berkunjung ke Sipolha (Salah satu wilayah sentrum kebangsawanan Simalungun di Tepi Danau Toba), tahun 1934 dari koleksi KITLV di Belanda. Atas nama habonaron do bona, tamu disambut dgn ramah, namun kita tetap berdiri sama tinggi tanpa menghambakan diri.

Kediaman Raja Siantar - Tuan Sawadim Damanik. Photo diambil saat Tuan Sawadim menerima anugrah Gouden Ster.
Kediaman Raja Siantar – Tuan Sawadim Damanik. Photo diambil saat Tuan Sawadim menerima anugrah Gouden Ster

Kediaman Raja Siantar – Tuan Sawadim Damanik. Photo diambil saat Tuan Sawadim menerima anugrah Gouden Ster. 1935-04-06

Gapura yang dibuat di kediaman Raja Siantar - Tuan Sawadim Damanik, saat Tuan Sawadim menerima anugrah Gouden Ster
Gapura yang dibuat di kediaman Raja Siantar – Tuan Sawadim Damanik, saat Tuan Sawadim menerima anugrah Gouden Ster

Gapura yang dibuat di kediaman Raja Siantar – Tuan Sawadim Damanik, saat Tuan Sawadim menerima anugrah Gouden Ster. 1935-04-06

Para hadirin saat Tuan Sawadim menerima anugrah Gouden Ster. Tampak hiasan dibuat tanda suka cita
Para hadirin saat Tuan Sawadim menerima anugrah Gouden Ster. Tampak hiasan dibuat tanda suka cita

Para hadirin saat Tuan Sawadim menerima anugrah Gouden Ster. Tampak hiasan dibuat tanda suka cita.1935-04-06

Masyarakat ramai berkumpul, saat Rajanya - Tuan Sawadim menerima anugrah Gouden Ster
Masyarakat ramai berkumpul, saat Rajanya – Tuan Sawadim menerima anugrah Gouden Ster

Masyarakat ramai berkumpul, saat Rajanya – Tuan Sawadim menerima anugrah Gouden Ster. 1935-04-06

Tuan Kama Damanik dari Pamatang Bandar, saat mengunjungi Assistent Resident G.L. Tichelman di Pamatang Siantar
Tuan Kama Damanik dari Pamatang Bandar, saat mengunjungi Assistent Resident G.L. Tichelman di Pamatang Siantar

Tuan Kama Damanik dari Pamatang Bandar, saat mengunjungi Assistent Resident G.L. Tichelman di Pamatang Siantar. 1936-10-28.

Arca Spiritual dari marga Damanik
Arca Spiritual dari marga Damanik

GL Tichelman menggambar Arca Spiritual dari marga Damanik. Aslinya, Arca ini terbuat dari bahan kayu tertentu, terdapat di Pamatang Malela. 1935

Tuan Isrel Sinaga (1890)
Tuan Isrel Sinaga (1890)

Tuan Isrel Sinaga (1890)Tercatat bernama Radja Israel, Putra Simalungun kota Parapat bermarga Sinaga. Putrinya – Jinim Sophia br Sinaga menjadi Puang Bolon Tuan Labuhan Asmin Damanik, Jambur Na Bolag Sipolha. Radja Israel adalah orang pertama memeluk Kristen di Prapat.Silsilah dan Hubungan Keluarga Sinaga Parapat dengan Damanik Sipolha Jambur Na Bolag :Radja Israel (anak ke 7 / bungsu) adalah adik Kandung dari Raja Ompu Bangbang / Raja Galumbang Laut Tawar Sinaga Prapat (anak ke 4 ) , Raja Amani Toga Dolok (anak ke 1 ), Amani Sorgalan Sinaga (ke 2) , Amani Sorgalan ( ke 3) dan Amani Mudol Sinaga (ke 5), Amani Goling Sinaga (ke 6) anak dari Raja Ompu Toga Dolok Sinaga Prapat.Putri Raja Ompu Bangbang/Raja Galumbang Laut Tawar Sinaga Prapat bernama R.Mesta Huria boru Sinaga menjadi Puang Bolon Tuan Raja Pinta Panaluan Jati Damanik Gelar Paraloangin Tuan Jambur Na Bolag ke 1, ayah dari Tuan Labuhan Asmin Damanik Tuan Jambur Na Bolag ke 2 berikutnya (mengawini Tantenya Jinim Sophia boru Sinaga) .Radja Israel mempunyai 8 anak laki laki dan 1 orang Boru satu satunya.1. Anak pertama Gani Sinaga ( dari ibu Br Manurung ke 1 / meninggal muda ketika Gani Sinaga masih kecil) ketika pemuda pergi merantau (pamit kepada Botownya saja) ke Kisaran, sebelum meninggal menyampaikan kepada turunannya untuk mencari keluarganya di Prapat dan bertemu, keturunannya ber agama Islam.Mulai dari anak kedua sampai ke sembilan dengan boru Manurung ke 22. Anak Kedua Alexander Sinaga dengan boru Manurung, keturunannya beragama Katholik ,Protestan dan Islam. Ibu saya Barnetje Sofia Kalalo asal Minahasa/Menado di borukan menjadi Boru Sinaga menjadi putri Alexander Sinaga, adik dari Maroehoem Sinaga, Tamiang Sinaga, Siti boru Sinaga dan Kakak dari Riama boru Sinaga, Mery boru Sinaga.3. Anak Ketiga Gidion Sinaga dengan Boru Manurung, keturunannya beragama Protestan dan Islam.4. Anak Keempat Putri satu satunya Jinim Sophia Boru Sinaga menjadi Puang Bolon Tuan Labuhan Asmin Damanik Tuan Jambur Na Bolag Sipolha, keturunannya beragama Kristen Katholik dan Protestan.5. Anak Kelima Tio Pulus Sinaga, keturunannya beragama Kristen Protestan dan Katholik.6. Anak ke enam Markus Sinaga,keturunannya beragama Kristen Protestan dan Katholik.7. Anak ke tujuh Marinus Sinaga, keturunannya beragama Kristen Katholik.8. Anak ke delapan Johan Sinaga,keturunannya beragama Kristen Protestan dan Islam.9. Anak ke Sembilan Paulus Sinaga, keturunannya beragama Kristen Protestan dan Katholik.(Keterangan: T. Andrianus Parlindungan Damanik / Bangsawan Sipolha, bermukim di Jakarta).

sususan kepengurusan
sususan kepengurusan

Duduk dari kiri ke kanan: Pandita Jaulung Wismar Saragih (Pendeta Kristen Pertama di Simalungun), Tuhan Gomok alias Tuan Baja Raya (1881-1940) – Raja Kerajaan Raya, Dr. P. Voorhoeve (Orientalis, Peneliti berkebangsaan Belanda), Jason Saragih (Guru Zending dari Raya Tongah, Ketua Comite Na Ra Marpodah Simalungun yang bekerja untuk membuat Agenda Gereja, buku nyanyian “Haleluya”, dan Alkitab dalam bahasa Simalungun), berdiri memakai dasi adalah Jacoboes Sinaga (Krani Tiga Raya dari Pematang Raya, Sekretaris / Bendahara Comite Na Ra Marpodah) serta pengurus-pengurus komite.

Duduk Raja Tanah Jawa 1919 - 1940, Tuan Sang Majadi (1885 – 23 Juli 1940).
Duduk Raja Tanah Jawa 1919 – 1940, Tuan Sang Majadi (1885 – 23 Juli 1940).

Duduk Raja Tanah Jawa 1919 – 1940, Tuan Sang Majadi (1885 – 23 Juli 1940). Jika Dihitung dari Raja Sorgalawan, Tuan Sangmajadi Sinaga adalah Raja ke IX Tanah Jawa, setelah menggantikan abangnya – Tuan Jintar yang mangkat setahun sebelum beliau dinobatkan. Setelah Tuan Sangmajadi mangkat pada 23 Juli 1940, tahta beralih kepada putra tertua beliau yang bernama Tuan Kaliamsjah Sinaga, hingga meletus revolusi sosial 1946. Tampak berdiri pada photo, dari kiri ke kanan, putra-putra Tuan Sang Majadi: Tuan Kaliamsjah Sinaga (Putra Pertama), Tuan Omsjah Sinaga (Putra Ke 3), Tuan Kalam Sinaga (Putra ke 2).

Tuan Kaliamsjah Sinaga (Raja Tanah Jawa) bersama Puang Solimah (Puang Bolon / Permaisuri, Putri dari Tuan Sawadim Damanik)

*http://sibayakindoalihendra.blogspot.com/2011/10/simaloengoen-atawa-timoer-01.html*